Minggu, 19 Februari 2017

Sang Pemancing



Di suatu pulau yang terkenal keindahan pantainya, diadakan kompetisi memancing. Hadiah uang yang di perebutkan cukup menarik penduduk sekitar dan para wisatawan yang ada disana. Hadiah itu peruntukkan bagi peserta yang dapat menangkap ikan yang tersebar dan terbanyak sepanjang kompetisi itu berlangsung.
Adalah 3 Pemuda yang bersahabat dan sedang berwisata disana berminat mengikuti kompetisi. Segeralah mereka menyiapkan peralatan dan perbekalanya masing masing.
Waktu berkompetensi tiba, ketiga pemuda itu memilih untuk berada dalam satu kapal karena persahabatan mereka. Pemuda pertama memilih berada disisi kanan kapal, pemuda kedua disisi kiri dan pemuda ketiga di buritan. Kapal di nakhodai oleh penduduk setempat yang mengetahui daerah daerah  yang banyak ikanya. Oleh nakhoda tersebut kapal di arahkan pada rute rute yang menarik pemandangan alamnya.
Pemuda pertama begitu serius memancing hingga tak menyadari kapal baru saja melewati palung dan gunung laut yang indah, ikan ikan terbang dan lumba lumba yang berlompatan. Waktu terasa begitu lama sebelum strike pertama ia dapatkan. Strike berikutnya saling susul menyusul dan pada akhirnya banyak ikan yang ia dapatkan meski bukan yang terbesar.
Pemuda yang kedua sibuk mencari posisi duduk yang teraman karena tiap kapal terguncang oleh ombak yang besar maka airpun membasahi bajunya. Hingga di tengah perjalanan akhirnya dia pun mendapatkan tempat teraman di belakang nakhoda namun umpan pancingnya hanya sekali disambar oleh ikan hingga waktu kompetensi berakhir.
Pemuda ketiga juga memasang pancingnya di buritan kapal. Namun saat kapal melewati palung dan gunung laut maka ia segera berfoto bersama beberapa kru kapal, begitu pula ketika lumba lumba berlompatan di dekat kapal ia pun segera mendekati sisi kapal yang terdekat, hingga bajunya basah namun tidak ia hiraukan karena tenggelam dalam rasa kagum. Kadang umpan pancingnya disambar meski tak semua dapat di selesaikanya dengan baik. Pada akhir kompetensi ia mendapatkan beberapa ikan yang kemudian dibagi bagikan pada kru kapal seusai penimbangan.
Ketiga pemuda yang bersahabat akhirnya menyelesaikan kompetisi memancing. Pemuda pertama memenangkan kompetensi kategori pemancing yang mendapatkan ikan paling banyak dan merekapun kembali kerumahnya masing masing dengan membawa cerita dan kesan yang berbeda beda.
Hidup seperti ketiga pemancing itu, kadang kita memainkan hidup kita seperti pemancing pertama, kedua ataupun ketiga. Kitalah yang memilih hidup kita ingin seperti apa dan bagaimana. Namun apakah kita sudah bahagia? Bahagia seperti apa? Hanya hati dan kesadaran diri untuk memahami panggilanNya yang dapat menjawabnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar